Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2017

Baladaku dan Mas Wondo (Cerpen)

Dari mana aku harus memulai Tuan, jika dirimu tak bersua... Aku bukan pemberi isyarat agar kamu mengerti Tuan... Jangan mengatakan kau selalu ingin membawaku pergi tapi kau tak sanggup disisiku... Jangan datang Tuan jika hanya mematahkan sayapku, Jangan memberiku udara segar jika setelahnya kau buat lara dihatiku karena sekali kau pergi tanpaku jangan pernah kembali lagi... Pagi yang dingin dari arah Gunung Sumbing yang fajarnya selalu ramai bagi kami manusia tembakau, manusia yang hidup dari hamparan pengharapan panen tembakau. aku anak yang lahir dari petani kecil tembakau yang hidupnya menggantung pada kuasa Tuhan akan hasil panen dari lahan warisan Eang Kakung untuk Bapak, seperti dua tahun lalu yang selalu menghampiriku, masih sama suasana ketidak nyamanan hatiku. pesan singkat setiap pagi dan malam dari Mas Wondo yang selalu mengirimiku puisi selalu berakhir sama, tak ada perubahan sedikitpun "menggantung", seperti daun tembakau srinthil yang Bapak taruh dirak...