Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2016

Cerita Pendek

Kebaikan dalam Keabaian Pagi yang dingin dari kota penuh kenangan, uap teh seduhan masih berputar-putar aromanya disekitarku, sedangkan hujan masih tak mau pergi dari lukaku, hujan diluar masih tak mau pergi dari kota ini, tumpukan buku-buku di rak memanggilku untuk sekedar dipegang, atau sekedar untuk dirapihkan. aku menatap hujan yang turun sembari memutar kaset kusut tentang seseorang, mencoba mengingat ingat antara kisah manis dan kisah hambar, aku bertanya tanya bagaimana kabarnya, terakhir aku dengar dia ada di Siantar, Medan, aku tak terlalu jauh mengenalnya, aku hanya tau sedikit tentangnya, dia kawanku dan aku baru mengenalnya dua tahun kemarin. tiba-tiba bunyi ponsel mengagetkanku, aku sampai lupa untuk memperkenalkan diriku, teman-teman biasa memanggilku Ta, untuk nama panjangku sendiri aku rasa tak perlu ku perkenalkan karena kalian hanya akan membacanya. Akhirnya sabtu malam tiba juga, kau masih ingat ponselku waktu itu berdering, ponsel itu membawa kabar hari ini a...

Cerita Pendek

Burung-Burung Kertas Yang Terlipat Sepucuk Surat Za Berlari ku dari kejauhan melewati gersangnya panas yang membakar, masih teringat jelas dalam memori hitam putih yang tersamarkan oleh tumpukan masa lalu yang ada. Disini ditempat ini aku tak pernah luput untuk menikmati seduhan teh panas dengan aroma green tea dengan uap yang berputar-putar diatas dinding hidung, aroma khas yang selalu memberi ketenangan waktu aku menghirupnya, sudah tiga tahun sejak aku melipat burung-burung kertas dan menggantungkannya diatas pintu kedai teh koko Liem. Masih seperti tiga tahun yang lalu aku selalu memilih tempat favorit dekat dengan pintu masuk agar aku dapat melihat indahnya warna-warni burung-burung kertas, sambil menulis cerita pendek bergenre romantis. Tapi saat aku tiba kembali ke kedai teh koko Liem aku masih memilih tempat yang sama dengan kegiatan yang sama tapi aku tak menemukan kembali burung-burung kertas yang aku gantung di depan pintu masuk kedai, “rusak mungkin, pikirku dalam ha...

Jadi Penonton (lagi)

Aku seperti orang bodoh yang tak tau diri, sudah diberi ampas masih saja mengejar Kamu tau tidak pernyataan yang dia ucapkan?  Dia selalu mengebu gebu jika menyebutkan nama itu,  Lalu aku mencoba bertanya apakah semut punya kesempatan buat gendong gong? Lalu aku kau tertawakan dengan tanpa dosamu kau menjawab tanya sana sama crew national geographic,  Kau kira aku bercanda? Mengangis hati ini kau buat, aku hanya jawab "tanpa tanyapun dengan mereka aku sudah tau jawabanyya, yang bisa diizinkan untuk gendong gong itu cuma teddy bear", aku tak tau kau sebenarnya mengerti atau tidak bahasa yang aku sampaikan,  Kapan kau bisa jaga perasaanku! Kapan kau bisa percaya kalau semut bisa gendong gong? Kapan kau perbolehkan aku duduk disitu, disampingmu mendampingimu?  Kenapa harus dia? Jawabannya kenapa juga harus kamu... (Mungkin)  sudah mentah-mentah aku ditolak!  Lantas masih saja aku berdiri di tumpukan duri, melihatmu dari kejauhan tert...