Cerita Pendek

Kebaikan dalam Keabaian

Pagi yang dingin dari kota penuh kenangan, uap teh seduhan masih berputar-putar aromanya disekitarku, sedangkan hujan masih tak mau pergi dari lukaku, hujan diluar masih tak mau pergi dari kota ini, tumpukan buku-buku di rak memanggilku untuk sekedar dipegang, atau sekedar untuk dirapihkan. aku menatap hujan yang turun sembari memutar kaset kusut tentang seseorang, mencoba mengingat ingat antara kisah manis dan kisah hambar, aku bertanya tanya bagaimana kabarnya, terakhir aku dengar dia ada di Siantar, Medan, aku tak terlalu jauh mengenalnya, aku hanya tau sedikit tentangnya, dia kawanku dan aku baru mengenalnya dua tahun kemarin. tiba-tiba bunyi ponsel mengagetkanku, aku sampai lupa untuk memperkenalkan diriku, teman-teman biasa memanggilku Ta, untuk nama panjangku sendiri aku rasa tak perlu ku perkenalkan karena kalian hanya akan membacanya.
Akhirnya sabtu malam tiba juga, kau masih ingat ponselku waktu itu berdering, ponsel itu membawa kabar hari ini akan ada reuni setelah lama magang kerja, hampir setahun tapi itu bagiku karena penelitianku cukup menguras pikiraan dan tenaga, aku dan teman-teman mengadakan reuni untuk melepas lelah dan sekedar mengenang masa-masa belajar dan bermain bersama, tak terkecuali aku dan seseorang yang aku putar kasetnya didalam pikiranku, dia datang hari itu, aku dan dia tidak terlalu banyak kami mengobrol, karena kami memang tak punya kenangan untuk diingat atau sekedar untuk diceritakan. Aku rasa keadaan masih sama masih seperti setahun yang lalu, kami masih saja dingin satu sama lain entah apa yang terjadi dimasa lalu sehingga membuat kami merasa hanya sekedar kenal.
Aku sedikit lupa, yang aku ingat kami pernah sekelas,pernah mengobrol bersama, dan pernah tertawa bersama, pernah belajar bersama, dan entah kenapa seiring berjalannya waktu kami menjadi jauh sejak aku mendengar kabar bahwa dia sudah memiliki kekasih, entah kenapa aku jadi merasa ada yang aneh dengan diriku, jika aku bertemu dengannya aku kadang tak pernah menyapanya, begitu juga dengan dirinya, dulu awal aku sekelas dengannya aku kadang seperti itu, mungkin sekarang aku kena batunya dia jadi dingin dan tak menyapaku. Bahkan saat obrolan dalam grup sosial media saat aku muncul mengomentari pesannya dia tidak muncul lagi. Bahkan bercandaku dianggap serius dan dia menanggapiku dengan ketus.
Sedikit yang aku ingat dari orang ini adalah dia mau untuk berusaha, mau untuk berjuang, walaupun terkadang agak sulit berbicara dengannya karena nasihat terkadang hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri, dia seseorang yang istimewa kalau menurutku, aku kadang hanya menilainya dari luar saja, kalau aku boleh bilang dia sedikit memberontak, aku pernah menjulukinya berandalan kesayangan Tuhan, dia sebenarnya punya banyak potensi dalam dirinya, tapi dia terkadang takut untuk mencoba sama sepertiku yang penakut, dia pandai mengalunkan tangannya untuk bermain gitar bahkan suaranya juga lumayan bagus, dia sangat berpotensi dibidang seni. dan aku juga baru tau akademiknya juga lumayan.
Kalau aku ingat sampai sekarang dia masih ketus padaku, kalau aku Cuma ingin professional didepan teman-teman yang lain, tidak ingin kelihatan bahwa aku dan dia sedang terjadi sesuatu. Kalau aku punya kesempatan untuk bertanya, aku Cuma ingin bertanya sampai kapan kamu ketus padaku??? Dan aku melakukan kesalahan apa padamu?, isu yang kemarin lupakan saja, aku tak pernah menganggapnya ada, dan atas adanya isu itu aku minta maaf, soal aku bertanya padamu saat kamu bercerita tentang pacarmu, “apakah semut punya kesempatan untuk menggendong gong?” dan kamu bilang Tanya pada crew National Geographic lupakan saja, aku hanya ingin tahu, apakah kamu termakan oleh isu itu atau tidak… rasa sakit kamu ketusi aku tidak pernah bertahan lama, kalau kamu pakai cara itu untuk menjauhi aku itu tidak akan pernah berhasil. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Origami

Wiranggaleng. Arus Balik. Pramoedya Ananta

Takdir yang Setengah Romantis (Cerpen)