Wiranggaleng. Arus Balik. Pramoedya Ananta





Pada Masanya sebuah kekuasan juga akan runtuh, dialahap keserakahan dan nafsu penguasaan...



1336
merupakan kejayaan Kerajaan Majapahit ditangan seorang Ratu yaitu Tribhuwana Wijayatunggadewi, selat malaka dan jalur pelayaran dikuasai. dibawah seorang Patih Gajah Mada yang bercita-cita menyatukan Nusantara dalam sebuah sumpah yang dikenal sebagai sumpah "Palapa". 

1350
Setelah meninggalnya Ratu Tribuwana Takhta Raja digantikan oleh anaknya Hayam Wuruk, di tangan Hayam Wuruk Majapahit semakin berkembang hingga hampir menguasai seluruh Nusantara. setalah wafatnya Hayam Wuruk, itulah masa kemunduran Majapahit. perang saudara yang dikenal sebagai perang pareg-reg menjatuhkan Majapahit dan seluruh daerah kekuasaannya. 

Tuban Termasyhur sebagai salah satu jalur pusat perdagangan dan pelayaran pada masanya.

Kisah ini diceritakan kembali oleh seorang pemuka desa bernama Rama Cluring kepada para penduduk Awis Krambil di Kabupaten Tuban, ia ceritakan bahwa takhta, harta dan wanita adalah kutukan bagi Raja yang tidak bijaksana, pada manusia yang haus akan keserakahan. 
Tuban yang dulu subur makmur sebagai penghasil kelapa, kini tidak mampu menikmati hasil panen yang berlimpah. Rama Cluring mati diracun saat ia menentang kejayaan Tuban yang tak bisa dinikmati rakyat desa dan para petani. disaksikan Idaayu (seorang gadis desa yang luwes dalam menari yang menjadi idaman para pria dan seorang Tumenggung) dan Wiranggaleng (seorang pegulat).

Diceritakan Arya Tumenggung Wilwatikta seorang pemimpin Tuban  seorang Raja yang salah langkah karena pengaruh Syahbandar Tuban keturunan Moro, Thalib Sungkar Alzubaid. 

Idaayu dan Wiranggaleng dinikahkan oleh Adipati Tuban, sebagai hadiah atas kemenangan dalam lomba tari dan Gulat serta sebagai tanda kerendahan hatian seorang Tumenggung ysng tak dapat memiliki kemolekan tubuh Idaayu. Wiranggaleng dan Idaayu tinggal dalam Kadipaten, Wiranggaleng diangkatnya menjadi seorang Syahbandar Muda Tuban membantu Syahbandar Thalib Sungkar. dalam hidupnya Wiranggaleng banyak mengalami masa kemajuan seiring dengan pembelajaran yang ia dapatkan dari pengalaman hidup menjadi seorang mata-mata di Jepara, Malaka, dan Demak. ia belajar dengan cepat bahasa melayu dan peranggi. ia menjadi korban atas perintah penghianatan Tuban oleh Adipatinya, yang dilakukan terhadap kerajaan Demak dan Rajanya Pati Unus, hanya karena tak ingin membantu peperangan merebut kembali Malaka dari tangan Peranggi. akibat pengkhianatan Tuban, bandar Tuban menjadi sepi, tak dijadikan persinggahan kapal dagang dari berbagai tempat.

Wiranggaleng membunuh patih Tuban, dia harus melakukannya karena sang patih tak bisa bertindak dan mempertahankan Tuban atas pemberontakan yang dilakukan di pedalaman Tuban untuk menggeser takhta Adipati Tuban. Wira mengangkat dirinya sendiri menjadi Senapati Tuban dan memimpin peperangan melawan pemberontakan bersama Kala Cuwil dan Bnateng Wareg. tapi setelah ditumpas pemberontakan itu ia malah dibuang, disia-sia dari Tuban. ia menyingkirkan diri bersama Idaayu dan anak-anaknya kembali menjadi Petani di Awis Krambil. sampai pada saat Tuban akan diserang oleh Demak karena keserakahan Sultan Demak, Trenggono yang memilih menguasai seluruh Jawa, ketimbang mengusir Peranggi di Malaka dan Banten. ia gila kekuasaan, hingga menentang cita-cita kakaknya Pati Unus untuk mengusir peranggi, hingga ia membunuh kakaknya sendiri.

Wira dititahkan untuk kembali memimpin perang oleh Adipati Tuban karena permintaan dari Liem Mo Han (sahabat Wira berkebangsaan Tiongkok) agar membantu dalam penumpasan Peranggi dan dikirim ke Malaka untuk bergabung dengan pasukan laut Demak, Bugis dan Aceh, tapi nyatanya ia dihianati kembali oleh Adipatinya, ia bersumpah tidak akan kembali ke Tuban sebelum sang Adipati mangkat. ia tak dapati pasukan laut Demak di Malaka. 

dalam peperangan yang ada Demak memukul mundur Tuban hingga masuk kepedalaman, sang Adipati mangkat mendengar Demak semakin masuk meguasai Tuban. dalam waktu yang bersamaan Peranggi masuk menguasai Bandar Tuban pada akhirnya Wira kembali ke Tuban karena mendengar berita matinya sang Adipati, ia memimpin perang melawan Peranggi. peperangan dimenangkan oleh Tuban. kemudian Tuban kembali dikuasai oleh rakyatnya. 

dalam peperangan terakhir Wiranggaleng dia mengundurkan diri menjadi Senapati Tuban ia berpesan  kepada prajurit, bahwa perang tidak akan pernah berakhir selama Peranggi tidak terusir dari Nusantara. ia katakan bahwa dulu Majapahit mampu menggoyang arus dari selatan ke utara untuk menyatukan Nusantara dan negeri-negeri disekitarnya. tapi sekarang arus berbalik menyerang utara yang menguasai selatan. Majapahit runtuh akibat keserakahan dan perangsaudara begitu pula atas keruntuhan Demak dan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara. 


Tak aku ceritakan semua yang ada dibuku Arus Balik, bacalah sendiri buku itu agar kau mengerti mengapa Arus bisa berbalik... 
Diambil dari buku Arus Balik. Pramoedya Ananta Toer.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Origami

Takdir yang Setengah Romantis (Cerpen)