Cerita Pendek
Burung-Burung Kertas Yang Terlipat Sepucuk
Surat Za
Berlari
ku dari kejauhan melewati gersangnya panas yang membakar, masih teringat jelas
dalam memori hitam putih yang tersamarkan oleh tumpukan masa lalu yang ada.
Disini ditempat ini aku tak pernah luput untuk menikmati seduhan teh panas
dengan aroma green tea dengan uap
yang berputar-putar diatas dinding hidung, aroma khas yang selalu memberi
ketenangan waktu aku menghirupnya, sudah tiga tahun sejak aku melipat burung-burung
kertas dan menggantungkannya diatas pintu kedai teh koko Liem. Masih seperti
tiga tahun yang lalu aku selalu memilih tempat favorit dekat dengan pintu masuk
agar aku dapat melihat indahnya warna-warni burung-burung kertas, sambil
menulis cerita pendek bergenre romantis.
Tapi
saat aku tiba kembali ke kedai teh koko Liem aku masih memilih tempat yang sama
dengan kegiatan yang sama tapi aku tak menemukan kembali burung-burung kertas
yang aku gantung di depan pintu masuk kedai, “rusak mungkin, pikirku dalam
hati”. Masih asyik dengan seduhan green
tea, pria paruh baya berusia sekitar 60 tahun menghampiriku, berdiri
disamping kursiku dan dengan wajah seperti kebingunan sambil mengamati wajahku
menyapa, “Nona Lintang?”, tanyanya sambil keheranan dan aku pun menjawab dengan
senyuman “iya ko Liem, ini saya Lintang ko, koko Liem apa kabar?”, “ Saya baik
Nona Lintang, nona bagaimana kabarnya? sudah tiga tahun ini saya tidak melihat
nona di kedai teh ini” aku menjawab sambil menggeser kursi untuk tempat duduk koko
Liem dan menjawab “saya sekolah lagi ko, S2 di New Zealand”, dan akhirnya kami
menghabiskan separuh waktu untuk banyak bercerita untuk mengembalikan kembali
suasana keakraban yang lama hilang.
Waktu
mulai linear dengan suasana malam, aku pun mulai berpamitan pulang kepada koko
Liem, saat aku ingin melangkahkan kaki keluar, koko tiba-tiba memanggilku dan
memberiku sebuah burung-burungan kertas dari origami berwarna merah, dan
mengatakan bahwa ada titipan dari seseorang untukku, “aku menyimpannya sudah
dua tahun ini,” kata Ko Liem,, dan aku hanya terlihat bingung dan keheranan.
Setiba
dirumah aku merebahkan badanku ke tumpukan busa empuk, dan aku teringat dengan
burung-burungan kertas berwarna merah yang diberikan Koko Liem, aku memainkan
burung-burungan kertas itu, membolak baliknya berharap ada jejak atau tanda
yang tertinggal dalam burung-burungan kertas itu.
Atmosfer
penasaran dan tebalnya kabut keingin tahuan membawaku kekedai teh Ko Liem, seperti biasa aku memesan
secangkir green tea hangat dan
menikmati seduhan uap yang menenagkan pikiran, aku mencari sosok yang ingin
kutemui untuk memecahkan teka-teki burung-burungan kertas, tentu saja aku
mencari ko Liem, orang yang paling tahu tentang asal-muasal burunng-burungan
kertas, tak sulit menemukan sosok ko Liem yang tinggi putih dan sedikit beruban
karena usianya, ko Liem aku memanggil dan mengajaknya untuk duduk dengan mata
setajam haimau karena penasaran, aku seakan-akan mengintimidasi ko Liem, beliau
terus aku beri banyak pertanyaan tapi beliau selalu mengatakan, petunjuknya
hanya pada burung-burungan kertas berwarna merah itu, dan salah satu sudut
ruangan kedai teh ini.
Aku
mencoba membolak balikan pikiran yang sudah mulai kelelahan untuk berpikir, kata-kata
Ko Liem yang mengatakan petunjuknya ada di burung-burungan kertas itu dan salah
satu sudut ruangan di kedai teh terus terngiang dikepalaku, seakan menyuruhku
untuk tak diam mencaritahu, ku keluarkan kembali burung-burungan kertas
berwarna merah itu dari tasku, dan aku masih saja kebingungan, sambil berfikir,
dan aku sedikit menyerah, seminggu setelahnya dengan keisenganku, aku
membongkar lipatan dari burung-burung kertas itu tujuanku hanya ingin mengingat
bagaimana cara melipatnya, saat aku membukanya aku menemukan tulisan dibalik burung-burungan
kertas itu, sebuah kata-kata sederhana
Langit terasa mendung tanpa seduhan
teh hangat
Mentari sore yang beranjak pergi,
lebih indah untuk dilihat
Malam yang selalu menunggui bintang
di langit
Ingin selalu kupaksakan langit
gelap meneduhi malam-malam berbintang
Menariku ditempat itu, menikmati
seduhan teh dan malam dengan kelipan bintang
Hampiri aku dengan tawamu jangan
punggungi aku dengan senyummu
Tulisan
ini yang aku dapatkan dari burung-burungan kertas itu, aku tak memahami siapa
yang menuliskan pesan ini, hanya tertulis pada akhir tulisan itu inisial “Za”,
aku tak punya petunjuk apapun, selain mengingat-ingat seseorang yang berinisial
Za.
Pagi
semakin ceria menyambut sinar mentari, dan sore semakin bersemangat menyambut
bulan dan bintang-bintang, masih dengan misi yang sama aku berkunjung kekedai
teh koko Liem, dan masih dengan keingin tahuan yang semakin menjadi-jadi, aku
masih memburu koko dengan pertanyaan-pertanyaan sama yang membuatku semakin
penasaran, siapa sebenarnya seseorang berinisial
Za itu, apakah aku mengenalnya dan mengapa dia membuat diriku penasaran dengan
teka-teki ini, “ko, saya mohon beri tahu saya ko siapa yang menulis
diburung-burungan kertas ini, saya hanya ingin bertemu dengan orangnya ko, saya
ingin menanyakan mengapa dia menitipkan ini pada koko untuk saya, dan ko Liem
hanya membalas ku dengan senyuman, “ Ko beri tahu saya dia siapa??”, dengan muka
putus asa aku terus memaksa ko Liem untuk mengatakanya, mungkin karena ibanya
koko pada ku ia lalu memberiku sedikit-demi sedikit petunjuk, “ Jika kau
penasaran dengan seseorang itu datanglah ke Sanggar Musik Warna”, dan koko
hanya mengatakan itu sebelum ia membereskan kedai tehnya.
Keesokan
harinya aku mengunjungi sanggar musik itu, tentu saja aku tak merasa asing dengan
sanggar ini, karena beberapa tahun sebelum keberangkatanku keluar negri, aku
belajar bermain gitar disini, rasanya seperti bernostalgia dengan alunan
akustik gitar waktu itu, aku menikmati setiap sudut sanggar ini, dan aku
mencari petunjuk seseorang yang berinisial Za itu, tiba-tiba aku dikagetkan
dengan tepukan pundak dari belakang, “Lintang”, suara itu seperti tak asing
ditelingaku, aku menoleh dan menatap lekat orang yang mengagetkanku, “Satria?”
ucapku dengan pelan, wajah rupawan yang menghiasi hari-hariku tiga tahun lalu,
spontan kami berjabat tangan, Satria adalah guru privat gitar ku, aku belajar
banyak jenis musik padanya, kamipun terhanyut pada perbincangan nostalgia, dan
akhirnya dia menanyakan tujuan ku kemari, akupun menceritakan semua yang sedang
aku cari pada Satria, dan dia menawarkan diri untuk membantuku menemukan
seseorang yang aku cari, seseorang yang berinisial Za. Setelah pertemuan itu
kami sering sekali bertemu dan menikmati secangkir teh hijau di kedai Koko Liem
sambil bercengkrama atau menghabiskan banyak waktu di Sanggar Musik Warna, kami
sering berkolaborasi bermain gitar, rasa penasaranku dengan seseorang yang
berinisial Za itupun mulai luntur, aku mulai lupa dengan tujuan aku mencarinya,
aku dan Satria kami semakin dekat, menghabiskan banyak waktu bersama saat
senggang, bercerita tentang genre musik, hingga pekerjaan, makanan kesukaan dan
hobi. Sampai pada suatu hari aku tak bisa menghunungi Satria untuk beberapa
hari ini, dan aku memutuskan untuk berkunjung ke sanggar musik itu untuk
menemui Satria menacari tahu kabarnya,
dan aku hanya mendapati kabar bahwa dia sedang berada di Bali untuk persiapan
manggung band indie nya, dan resepsionis di sanggar itu memberiku lipatan
burung-burungan kertas dan mengatakan bahwa, Satria akan segera menghubungiku
dan mengatakan bahwa aku tak usah cemas. Benar saja sepulang dari sanggar itu
aku mendapat pesan singkat dari Satria “Hai Lintang, tak usah mengkhawatirkan
aku, oh iya aku mendapat sedikit petunjuk tentang seseorang yang berinisial Za itu,
pasti kamu telah menerima burung-burungan kertas itu, burung-burungan kertas
itu dari seseorang berinisial Za”. Sesaat aku ingin menelpon Satria tiba-tiba
saja telpon nya tak bisa dihubungi. Masih terbesit dipikiran pertanyaan Satria
kenapa aku ingin menemui orang itu, “Apa kamu sangat-sangat ingin bertemu
dengannya?” Tanya Satria padaku, dan aku
hanya menjawab “aku juga tak tau kenapa, aku merasa orang itu dekat dan ada
disekitarku, tapi terasa jauh”. Dan Satria bertanya lagi apa yang akan aku
lakukan ketika bertemu dengan orang itu, “aku ingin menanyakan mengapa ia
membuatku penasaran dengan semua teka-teki ini, jawabku”. Burung-burungan
kertas yang aku dapat, segera aku buka berharap ada petunjuk lain yang
tersimpan dibaliknya, dan hanya ada sedikit tulisan “Temui aku di tempat aku
mengamatimu setiap hari, 22 Pebruari pukul 18.00” dan dengan inisial Za
dibawanya, “itu hari ulang tahunku gumamku dalam hati,” rasa penasaran yang
sempat hilang aku tmbuhkan kembali dan
aku semakin penasaran siapa seseorang berinisial Za, sembari berpikir tempat
yang menyatakan bahwa dia mengamatiku setiap hari apakah itu mungkin kedai teh
Koko Liem, hari yang ditentukan itupun tiba, hari spesial untuk hidupku,
pagi-pagi buta itu aku sudah menerima pesan singkat dari Satria “Hai Dear…
selamat ulang tahun yang ke 24 tahun, aku mengirimkan hadiah untukmu, dan maaf
aku tak bisa pergi dari Bali sekarang untuk merayakan bersamamu”, sedikit sedih
tak bisa merayakan bersama Satria, tanpa pikir panjang saat hari mulai beranjak
malam aku pergi untuk menemui seseorang yang berinisial Za itu, aku pergi ke
kedai koko Liem, suasana kedai itu tiba-tiba saja ramai oleh suara aluan musik,
tak seperti biasanya di kedai tua ini, sesampai aku di depan pintu masuk kedai
aku melihat burung-burung kertas yang aku buat tiga tahun lalu tergantung
diatasnya, saat aku melangkahkan kaki untuk masuk aku disambut ko Liem dan
didudukkan dikursi yang telah dipilihkan seolah aku datang karena undangan ko
Liem, aku duduk menghadap panggung yang sudah berisi para anggota band yang
bersiap-siap untuk memainkan musik, dan aku mendengar suara vokalis yang
membelakangiku ia mengatakan “Selamat ulang tahun yang ke 24 tahun untuk Lintang
Keswara, yang sedang mencari seseoraang yang berinisial Za”, dan saat vokalis
band itu membalikkan badan aku semakin tak percaya ternyata itu Satria, dia
menyanyikanku sebuah lagu dari grup vocal Tangga “Tak Kemana Mana” aku
menikamti lirik demi liriknya, setelah lagu itu selesai Satria menghampiriku
dan mengajakku bersalaman persis ketika kami berjabat tangan setelah sekian
tahun tak bertemu “Hai Lintamg , senang aku bisa menemuimu ditempat aku
mengamatimu di sudut ruangan ini setiap hari tiga tahun yang lalu”, koko Liem
yang ikut terlibat dalam kejutan inipun mendekatiku, dan berkata “ Mas Za ini
selalu disini untuk menungguimu di pojok kedai ini, dan kau tak pernah sadar
dengan kehadirannya Lintang”. “Za? Tanyaku pada mereka dan Satria menjawab “Za
itu Satria Reza” sambil tersenyum ia menatapku, entah tak banyak kata yang
terucap dari mulutku, dan aku hanya bisa merasa bingung bercampur bahagia,
entah kenapa Satria yang menyamar menjadi Za ini mengetuk hatiku untuk aku
izinkan masuk dan menutup pintu itu, aku masih tak percaya dan bertanya kenapa
ia menyembunyikan identitasnya, dan ia berkata” tiga tahun lalu saat kau datang
ke sanggar itu kau memberikan suasana yang berbeda, kau mampu membuatku selalu
berpikir tentangmu, dan merubahku menjadi lebih baik. Dihari keberangkatanmu
keluar negri aku tak mampu mengatakan apa yang aku rasakan selama ini aku
selalu mengamatimu di kedai ini, dan menungguimu sampai kedai ini hampir tutup
kau masih asik dengan laptop dan menuliskan carita di laptop itu, aku terlambat
untuk memintamu jangan pergi, dan aku hanya bisa merindukanmu dengan memandangi
burung-burungan kertas yang kau gantung di depan pintu kedai teh milik ko Liem
ini”, apakah aku tak semengerti itu dengan keadaan sekelilingku, aku yang tidak
pernah mengamati sekelilingku, dan akhir dari perjalanan panjang seseorang
berinisial Za ini (Satria Reza) adalah memilih untuk menemani Lintang Keswara
yang tak memiliki sinar yang terang seperti bintang-bintang dilangit malam ini.
“Dan ku labuhkan hati ini pada
seseorang yang menungguiku di separuh waktunya, menungguiku dengan sabar walau
aku tak pernah menoleh kebelakang untuk sekedar bertanya sedang apa dirimu
didepan pintu hati ini”
“Kadang kita tak pernah benar benar
tau kapan air harus asin, kapan air harus tawar atau kapan air terasa getir,
yang kita tau hanya menerka-nerka dan menebak, yang kita tau hanya sebatas
berkhayal tanpa tau yang sebenarnya”
Komentar
Posting Komentar