Baladaku dan Mas Wondo (Cerpen)
Dari mana aku harus memulai Tuan, jika dirimu tak bersua...
Aku bukan pemberi isyarat agar kamu mengerti Tuan...
Jangan mengatakan kau selalu ingin membawaku pergi tapi kau tak sanggup disisiku...
Jangan datang Tuan jika hanya mematahkan sayapku,
Jangan memberiku udara segar jika setelahnya kau buat lara dihatiku
karena sekali kau pergi tanpaku jangan pernah kembali lagi...
Aku bukan pemberi isyarat agar kamu mengerti Tuan...
Jangan mengatakan kau selalu ingin membawaku pergi tapi kau tak sanggup disisiku...
Jangan datang Tuan jika hanya mematahkan sayapku,
Jangan memberiku udara segar jika setelahnya kau buat lara dihatiku
karena sekali kau pergi tanpaku jangan pernah kembali lagi...
Pagi yang dingin dari arah Gunung Sumbing yang fajarnya selalu ramai bagi kami manusia tembakau, manusia yang hidup dari hamparan pengharapan panen tembakau. aku anak yang lahir dari petani kecil tembakau yang hidupnya menggantung pada kuasa Tuhan akan hasil panen dari lahan warisan Eang Kakung untuk Bapak, seperti dua tahun lalu yang selalu menghampiriku, masih sama suasana ketidak nyamanan hatiku. pesan singkat setiap pagi dan malam dari Mas Wondo yang selalu mengirimiku puisi selalu berakhir sama, tak ada perubahan sedikitpun "menggantung", seperti daun tembakau srinthil yang Bapak taruh dirak bambu depan rumah. aku tak pernah berani bertanya kenapa dia selalu mengirimiku puisi dan terkadang dia percaya padaku untuk menyimpan keluh kesah tentang pekerjaannya dan hidupnya, beberapa kali aku mendengar suaranya diujung telpon sedang bersenandung lagu-lagu romantis. pernah dia ingin membawaku pergi menemaninya diperantauan tapi aku menolak. buat apa pikirku kalau Mas Wondo membawaku tapi tak ingin aku ada dihatinya. ada perempuan lain dalam latarbelakang pembuatan puisinya, "ah kenapa aku sebut dia perempuan lain",toh aku bukan siapa-siapa Mas Wondo.
Mas aku ingin mas tau, disetiap aku mengadu pada pemilik-Ku selalu kuselipkan namamu dan nama kita daintara orang-orang terkasihku. Mungkin Tuhan masih senang mendengarku merengek meminta dirimu, minggu depan kamu balik ke perantauan lagi Mas dan kita belum sama sekali menikmati tanjakan bukit dekat rumah Bapak hanya untuk duduk berdua bersua kapan kau akan melangkahkan hatimu ke hatiku...
TA_2202_
Komentar
Posting Komentar