Asa Terbungkus Harapan

 Tak kubayangkan bagaimana aku begitu semangat menungguimu dipagi hari, tak kubayangkan bagaimana aku begitu menggebu melihatmu setiap hari, tak kubayangkan bagaimana aku mencoba memahami langkah demi langkah kehidupanmu...
diakhir tahun ini kembali seperti diawal tahun, aku masih ingat bagaimana aku berkenalan denganmu dan kembali ke akhir tahun membuatku merasa mengenalmu dalam keadaan canggung...

Aku masih ingat bagaimana aku ngotot melihatmu pentas senimu
Aku masih ingat bagaimana aku berkeringat dingin dan khawatir saat kamu tak masuk kelas dan akhirnya aku harus berbohong...
Aku masih ingat bagaimana aku meluangkan waktuku untuk mengajarimu pelajaran...
Aku mengerti kenapa kita tak bisa menyeimbangkan langkah
Aku mengerti mengapa obrolan kita tak pernah masalah pribadi hanya seputar kampus dan politik
Karena kamu harus menjaga perasaan seseorang

Masih ingat bagaimana aku tersenyum lebar saat mendengarkanmu bermain musik dan bernyanyi
Masih terasa bagaimana aku ingin marah padamu tapi aku tak bisa...
Masih aku ingat bagaimana kau mengimami sholatku...
ingin aku mengucapkan selamat
ingin aku mengatakan aku kecewa
Tapi aku tak bisa, aku tak punya banyak keberanian...
ASA sudah tak ada lagi,
Pergilah dengan kebahagiaanmu dengan seseorang yang selalu bisa menyeimbangkan langkahnya denganmu...
jika kamu ingin pulang mungkin aku masih disitu menungguimu... (Mungkin)

sebait cerpen yang tak tau kapan akan selesai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Origami

Wiranggaleng. Arus Balik. Pramoedya Ananta

Takdir yang Setengah Romantis (Cerpen)