Marah Itu Perlu Atau Tidak?


Dari semua  buku yang saya baca selalu menuliskan bahwa marah itu tidak perlu mungkin jika kamu penyuka buku pernah membaca buku karangan Ajahn Brahm “Cacing dan Kotorannya” Brahm dulunya adalah seorang Kristen yang berpindah agama menjadi Budha, di Budha dia mendapat ketengan karena meditasi yang ia rasakan, dari sekian banyak meditasi yang ia lakukan dia belajar sabar, belajar menerima, dan belajar tak mengeluh karena satu suara yang keluar dari mulutnya apabila ia mengeluh akan mengurangi khusuknya sebuah meditasi dan mungkin ujian menjadi biksu akan mengulang. Dalam buku ini dituliskan bahwa ketika kita marah aktivitas apapun menjadi tidak menyenangkan, kita akan merasa badmood, dan semua apa yang dikerjakan orang lain akan terasa salah dimata kita.
Dalam banyak agamapun terutama Islam sangat tidak dianjurkan untuk marah kita disuruh untuk menahan hawa nafsu dan egoisme kita, dulu saya adalah seorang yang suka sekali marah karena watak saya yang keras ini orang selalu enggan untuk berbicara dengan saya, mereka bilang kalau saya itu galak, maka saya merubah sedikit demi sedikit kebiasaan buruk saya selama ini, saya mencoba untuk melihat sebuah masalah yang disebabkan oleh teman saya misalnya pasti memiliki sebuah hikamah tersembunyi, atau hal-hal yang tidak membuat saya bahagia itu adalah takdir yang telah digariskan untuk dijalani dengan suka cita.  
Saya mempraktikan saran dari buku yang Brahm tulis, dimulai dari selalu melihat bahwa tidak ada manusia yang sempurna mereka, saya, kita, atau kamu pasti melakukan sebuah kesalahan setiap harinya dimulai dari kesalahan terhadap diri sendiri, dengan membuang  buang waktu. “Beberpa orang terkadang hanya melihat dua bata merah diantara beribu bata coklat” itu adalah kata-kata yang saya kutip dari buku Brahm, artinya sekian banyak sebuah kebaikan seseorang pasti akan kalah hanya dengan sebuah kesalahan entah itu besar ataupun kecil. Ketika saya marah dengan seseorang saya selalu mengingat kebaikan orang itu walaupun itu hanya sekecil biji kurma, atau jika orang itu tidak pernah memberikan kesan baik terhadap saya, saya akan berpikir bahwa dia adalah sebuah ujian yang dikirim untuk menguji kesabaran saya.
Awalnya mempraktikan ini saya tidak langsung berhasil, tetapi bertahap dan secara bertahap, pelan-pelan sampai sekarang juga masih seperti itu, buat saya memaafkan adalah hal yang paling mudah, hari ini dia membuat saya marah besok saya sudah memaafkan, tetapi tidak untuk melupakan, saya bukan pribadi yang memiliki dendam tidak, saya bukan orang pendendam buat saya itu tidak baik untuk kesehatan, maka belajarlah dari memaafkan karena memaafkan itu susah tetapi mengasyikkan. Setiap pagi coba untuk melihat cermin dan tersenyum maka harimu akan menyenangkan, tapi saya tidak bilang itu selalu berhasil karena bahagia atau tidak hidup kita, tenang atau tidak hidup kita, memaafkan atau marah tergantung dari bagaimana kita kemabali ke lingkaran awal prinsip hidup memaafkan dengan meninggalkan sebuah keegoisan.
NB: saya sedang tidak mengajarkan ajaran seorang biksu agar merubah agama yang kita anut,  yang mungkin saja yang membaca ini akan berpikir bahwa ajaran budha lebih baik dari agama lain terutama Islam, buat saya ketika suatu ajaran itu positif tanpa merubah akidah no problem.
“Orang marah itu ibarat pohon yang tidak berdaun, tidak berbunga, dan tidak berbuah tapi mungkin berakar”



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Origami

Wiranggaleng. Arus Balik. Pramoedya Ananta

Takdir yang Setengah Romantis (Cerpen)