Sujudku bukan Sujudmu (Sudut pandang aku)




Seperti adagium yang menyebutkan bahwa "Tuhan memang satu kita yang tak sama"

Namaku Aulia, aku lahir dari keluarga yang lumayan agamis. Aku muslim dan aku adalah Islam keturunan. aku bekerja sebagai penulis freelance. Menjalani hidup tidak terlepas dari banyaknya permasalahan baik yang simpel dan kompleks, sebenarnya tergantung bagaimana kita menyikapi permasalahan tersebut. Akan jadi mudah kalau kita buat itu jadi ringan dihadapi dengan hati yang ikhlas. Tapi akan jadi sulit kalau kita bersikap sebaliknya. Baru-baru ini setelah aku pulang dari merantau untuk berhari raya di kampung halaman, kakakku membawa kabar yang mengejutkan. Ya dia bilang kalau dia sedang menjalani hubungan dengan seorang perempuan non muslim. Yah, Ibu waktu itu sangat sedih mendengarnya. Bapak pun sulit menerima. Aku apalagi, aku orang pertama yang tidak setuju dengan hubungan beda agama.
Aku tau masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang plural dengan agama, bahkan dalam nilai-nilai Pancasila juga diajarkan bagaimana menghargai perbedaan agama dan juga suku serta kebudayaan. Satu hal dalam hidupku aku bisa menerima perbedaan agama “bermasyarakat”, tetapi jika itu sudah menyangkut aqidah atau kepercayaan aku tak bisa berkompromi. Ketakutan ibuku dan bapakku sangat aku rasakan. Pernah suatu hari aku berbicara dengan kakakku “Mas, kenapa dilanjutkan jika berbeda aqidah?,” mas ku menjawab “kan hanya main, main saja belum tentu kami berjodoh”, “toh dalam Al-Quran pernah dijelaskan bahwa Laki-laki muslim diperbolehkan menikahi perempuan-perempuan ahli kitab (nasrani dan yahudi)”. Akupun hanya bisa berkata “kalau memamang sudah berbeda dan merasa nanti belum jodoh, sebaiknya berpisah saja, jangan dilanjutkan. Kasian kalian berdua akan sama sama terluka, kalau masih belum jauh seperti ini, belum terlalu banyak kenangan yang diukir, toh pacaran dalam Islam juga tak diperbolehkan”. “kasian Ibu dan bapak mas, mereka Cuma ingin yang terbaik untuk anaknya”. Dan mas ku hanya bilang “Aku gak akan mengikuti keyakinanannya, tenang saja tak usah khawatir”. “jangan sombong mas, setan menggoda manusia lewat jalan apa saja”, begitu ucapku. Sejak mas ku berhubungan dengan perempuan itu, dia jadi sering membantah dan cepat marah kepada Ibu dan Bapak.
Aku langsung masuk kekamar mencari sumber tentang ayat yang disebutkan kakakku tadi, ternyata memang benar ada dalam Al-Quran Surah Al-maidah ayat 5, aku baca artinya tapi memang sedikit membingungkan dan aku butuh tafsir. Segera aku menuju rak buku tafsir punya bapak, aku cari ayat yang dimaksud dan aku dapatkan beberapa pendapat Imam yang memperbolehkan. Bahkan di Zaman Rasulullah beberapa sahabat Rasul menikahi perempuan-perempuan ahli kitab, kurang puas dengan apa yang aku dapat aku langsung mencari ceramah-ceramah terkait hal tersebut, disitu juga menyebutkan kalau mashab yang kita ikuti adalah Syafi’I tidak diperbolehkan menikahi perempuan ahli kitab, hanya laki-laki muslim yang dibolehkan menikahi perempuan ahli kitab dan perempuan muslim tidak diperbolehkan menikahi laki-laki ahli kitab. Lalu ustad tersebut juga menjelaskan bahwa tujuan dari ayat tersebut maksudnya agar perempuan yang dinikahi tersebut dapat mengikuti suaminya untuk memeluk agama Islam. Begitu penjelasan yang aku cari dari apa-apa yang aku baca dan dengarkan.
Aku memberi tahu bapak, dan bapak hanya bilang kita doakan yang terbaik saja buat masmu, tapi kalau bisa kita doakan agar berpisah. Tetapi kalau memang jodohnya siapa tau masmu bisa membimbing untuk masuk Islam. Dan aku hanya bisa bilang “Pak, kalau memang si perempuan mau masuk Islam harusnya dia sudah mulai cari tahu tentang Islam, aku hanya takut dia masuk Islam hanya karena mas, bukan karena dia menemukan ketenangan dan mengakui keesan Allah”. Lalu bapak hanya bilang “semua sudah diatur tinggal masmu saja mau berusaha atau tidak untuk takdirnya yang lebih baik”. Entahlah kita yang sedang membercandai takdir ataukah takdir yang sedang membercandai kita.
Entahlah tapi aku tetap tidak setuju dengan jalan yang diambil masku, bukankah kita masih bisa mengusahakan takdir yang baik untuk diri sendiri? Bukankah Rasulullah telah dijamin Surga oleh Allah? tapi beliau masih melakukan  solat, doa dan berdzikir serta melakukan amalan-amalan terbaik bukan?. Ada apa dengan kita, hamba yang masih berlumur dosa, yang tak tau kapan maut menjemput, apa karena kita semakin tau tentang agama, kita yang akan membohongi dan dengan mudah membodohi Tuhan? Apa yang salah dengan menuruti Ibu dan melepaskan perempuan itu?, aku tak bisa mentolerir jika itu berhubungan dengan aqidah, “bagimu agamamu dan bagiku agamaku”, kita tak akan bisa mencampur adukkan cinta dengan aqidah, kita tak pernah meminta jatuh cinta dengan siapapun lalu kita juga tidak bisa memilih bukan, akan patah hati dengan siapa? Bukankah setiap luka selalu ada obatnya? kakaku hanya takut menyakiti satu tanpa berpikir menyakiti banyak orang, kakakku hanya tau memulai tanpa tau caranya menyudahi, yang dia tau “itu cinta”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Origami

Wiranggaleng. Arus Balik. Pramoedya Ananta

Takdir yang Setengah Romantis (Cerpen)