Jendela Insan Cita

Saya baru membuat sebuah komunitas bersama teman saya awalnya namanya adalah Jendela Pelangi, tapi kemudian diganti karena nama tersebut sudah ada komunitasnya. Komunitas ini pada awalnya dibentuk karena program kerja HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), tapi karena sudah pada sibuk semua, program ini sedikit terlupakan. Pada akhirnya saya bangun lagi bersama teman saya tujuannya bukan hanya untuk kalangan HMI tapi bisa lebih luas dari HMI. 

Logo Komunitas

Logo diatas punya banyak mana yang pertama kenapa namanya Jendela Insan Cita?
pertama "Jendela" harapannya kita bisa memiliki sebuah tujuan hidup dari pertama kali kita bangun pagi yang kita lihat adalah jendela, tanpa jendela rumah bukanlah rumah. 
kedua "Insan Cita" hal ini dilatar belakangi karena kami dari HMI, kami ingin memenuhi tujuan HMI yaitu Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertangung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT” (pasal 4 AD HMI).  Dari tujuan tersebut dapat dirumuskan menjadi lima kualitas insan cita, yakni kualitas insan akademis, kualitas insan pencipta, kualitas insan pengabdi, kualitas insan bernafaskan Islam, dan kualitas insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
ketiga "buku" itu karena tujuan kita adalah mencerdaskan bangsa dengan membaca. 
keempat "warna kuning" merupkan warna persahabatan, dan yang terakhir warna Hijau menunjukkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Saya berusaha untuk membangkitkan kemabali komunitas ini, mulai dari promote aksi kami ke media sosial dan lainnya. Jargon kami "Lestarikan Kebodohan", jargon ini sempat kontroversi "kenapa kebodohan harus dilestarikan?,", Program yang gak mendidik atau apalah (?)", kenapa saya memilih jargon tersebut?, itu karena seseorang kakak tingkat saya yang menginspirasi hidup saya untuk membaca dan menulis, namanya mas Firman Sentot Abintara, beliau sudah saya anggap sebagai kakak kedua buat saya. saya dapat jargon itu pun dari beliau "menurut filosofi beliau makna Lestarikan Kebodohan adalah, apabila kita banyak membaca kita semakin mengerti bahwa diri kita itu sebenarnya bodoh", makna itu lah yang saya ambil. tapi keburu dicaci netizen hahaha "fikir saya, tinggal sumbang buku saja kok repot harus berdebat makna jargon komunitas, toh tujuan saya baik".

Kemarin adalah aksi pertama kami di Desa Kalitekuk, Kecamatan Donomulyo, Malang Selatan.
disana kami membagikan buku dan sedikit membari pengajaran tetapi tidak banyak, karena keterbatas waktu. adik-adik lumayan senang dapat buku baru, semoga bermanfaat yah. aksi kali ini masih di bawah naungan HMI. lain kali kami (saya dan teman saya) aksi ini bisa berlanjut untuk masyarakat umum. semoga apa yang saya cita-citakan dari dulu (ingin punya rumah singgah untuk anak-anak Indonesia yang membutuhkan bisa saya rintis dari sekarang), mmngkin yang pernah liat Instagram saya, saya pernah upload foto dream book saya ini adalah mimpi saya yang ke lima. 







salam lestari kebodohan dari kami :D, Terimakasih untuk sumbangan bukunya kepada para donatur jika teman-teman ingin menyumbangkan buku bisa dengan membantu dalam mendonasikan buku bacaan berupa:
1.buku bacaan layak tidak mengandung SARA
2.buku pengetahuan
3.buku fiksi dan non fiksi
4.Al-Quran dan Iqra'  (semua buku bacaan tidak harus baru)  
Kami membuka donasi untuk sobat-sobat insan cita yang membutuhkan. Untuk yang berminat bisa mendonasikan melalui:
kontak kami di
Atiqah: 081357518192 (sms/wa)
Anita : 085349595345 (sms/wa)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Origami

Wiranggaleng. Arus Balik. Pramoedya Ananta

Takdir yang Setengah Romantis (Cerpen)