Mengkaji Makna

Hujan mulai datang kali ini, bukan membawa kenangan tetapi membubarkan lamunan.
bahwa aku akan segera bergegas lari...
bukan menunggu seperti hujan yang diserap akar pohon bunga itu
sebab aku bukan menantikan hujan bulan juni
Aku tak suka hujan bulan juni, sebab hanya kau yang girang menunggunya...
sudah kau tau jejak kaki yang ragu-ragu itu ada, tapi sengaja kau hapus

Aku bukan fasis
bukan komunis
juga bukan idealis
tapi aku matrealis (katamu)...
Salah apa hamba ini tuan, hingga kau sebut begitu...
Apa karena pisau yang tajam yang baru aku ayunkan menusuk lembut hati kekasihmu?

Sudahkah kau senang hari ini tuan,
aku sudah tak membenci kekasihmu
maka apakah kau bisa mencabut katamu yang menyakitkanku?

Mimpi yang sama untuk ketiga kalinya,
Isyarat apa itu tuan?
seolah menyuruhku untuk numpang lewat seperti angin~~~

"karena aku ini cuaca, berharap kau tak salah membacanya", "(katamu)
kalau boleh aku tafsirkan, aku memang salah membacamu
harusnya tak kuartikan singgahmu sebagai akhir pencarianmu

Maka tak jadi aku berikan yang sudah aku gambar untukmu, takut kalau-kalau kau hanya akan jatuh iba~~ (Ta)

Hanya dua alasan yang membuat seseorang memutuskan pergi sejauh mungkin. Satu karena kebencian yang amat besar, satu lagi karena rasa cinta yang amat dalam. (Tere Liye – Rindu: 33)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Origami

Wiranggaleng. Arus Balik. Pramoedya Ananta

Takdir yang Setengah Romantis (Cerpen)