Pulang...


Pulang

Oase panjang pada padang rumput tanpa pasir
Tertipu  angan itu pada guratannya
Menembus waktu dia terlena, 
Pada denting lonceng...
Melongok ia pada sebuah Menara, 
Dirasai sedikit sejuk pada kubahnya
Kerikil mana yang melukai kaki mungilnya

Hiraukan kain putih nan polos, ia semakin risau
Bertanya alam pikiran pada seseorang berbaju hijau
dimana dapat ditemui tidak tanpa karena,
Pada sebuah tumpukan tanya mengapa

Bilal meneriak dalam lima kali panggilan Tuhannya
Maka ia menjadi diam hilang risaunya
Sehingga sudah tak bingung dia cara melipat kertas-kertas

Diakantongi setiap jawab dalam kalimat Keesaan Tuhan 
Tiada zat yang patut disembah 
Selain Engkau Yang Maha Kasih 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Origami

Wiranggaleng. Arus Balik. Pramoedya Ananta

Takdir yang Setengah Romantis (Cerpen)