Sang Perayu bilang Cemburu

Aku bukan Pidi Baiq yang bisa nulis proklamasi cinta ala Dilan untuk Milea,
Aku bukan Sapardi Djoko Damono yang ingin mencintaimu dengan sederhana lewat cinta si Sarwono kepada Pinkan
dan Aku bukan Seno Gumira Ajidarma yang mengisahkan Sukab yang rela memotong senja untuk Alina, berjuang untuk menghadiahkanmu sepotong senja...

Aku cuma basa basi yang kemakan waktu
kebanyakan teoritik tanpa praktik
Lalu.. dengan nama apa engkau akan ku panggil?
kekasih, sayang atau cintaku?
atau malah harapanku?

aku bahkan tak berani bilang begitu
sebenarnya sejak tadi pagi ku kobarkan api cemburu
pada dia dan dia yang merajai disekitarmu
sore hari kucoba redam amarahku,
membierkanmu beradu keelokan senja yang lainnya

mana mungkin aku bilang padamu kalau aku ingin,
selalu diajak bicara
dimintai tolong, dibonceng kesana kemari
ingin sih, tapi berani pun aku tidak
pingin, tapi aku lebih memilih diam saja.

Enak begini kan,
aku jadi tidak canggung
tidak kebanyakan bawa perasaan
tidak akan takut kehilangan
anggap saja kamu sedang berusaha menuju kepadaku
Husnudzon pada Pencipta tidak apa-apakan?

waktu aku mendamba disampingmu
selalu ku katakan pada diriku, itu cuma nafsu
waktu aku membayang berjalan bersamamu
ku katakan pada Tuhan itu doaku

Pada sebuah bongkahan tasbih
yang putus tiga kali, kau bersemayam
setelah tasbih, tahmid dan takbir

Biar semesta bekerja dengan caranya
aku tak akan memaksa
memintamu kepada Tuhan saja aku telah merasa berdosa



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Origami

Wiranggaleng. Arus Balik. Pramoedya Ananta

Takdir yang Setengah Romantis (Cerpen)