Nyai Ontosoroh dan Emansipasi perempuan
Seorang perempuan berkebaya, tanpa alas kaki....
Nyai Ontosoroh...
Seorang perempuan pribumi yang dijual sebagai gundik oleh orangtuanya sendiri, dia dijual kepada seorang Tuan berkebangsaan Eropa bernama Herman Mellema. saat menjadi gundik Tuannya dia belajar banyak tentang baca, tulis, bahasa belanda, bahasa melayu, seni dan sastra serta administrasi dan manajemen perkantoran. Sejak ia dijual ia memutus segala hubungan keluarga dengan ayah dan ibunya, baginya ayahnya yang seorang mata duitan tak terhormat menjadi seorang ayah, dan ibunya perempuan yang hanya bisa menangis dan tak bisa melawan ayahnya juga diputus hubungannya. Nyai Ontosoroh seorang pribumi tetapi memiliki jiwa Eropa, seorang jawa yang bernama asli Sanikem.
Suatu hari badai rumahtangga menghampiri keluarganya, sejak ia dikhianati oleh Tuannya dan ditinggal pergi, ia membesarkan sendiri perusahaannya. dia mengelurakan Annelies dari sekolah dan mengajarinya sendiri baca-tulis dan cara mengurus perusahaan. dia tak ingin anaknya Anellies menjadi seperti dirinya walaupun Anellies adalah seorang indo. dia tak hanya punya satu anak saja, Robert Mellema adalah anak pertamanya, tetapi ia memilih menjadi Eropa seperti ayahnya. dia tak mau menghormati Nyai yang hanya seorang pribumi, baginya bangsa eropa adalah bangsa paling terhormat. maka oleh Nyai ia dibuang dan tak diperhatikan.
sebelum tidur Nyai selalu membaca bacaan apa saja baik itu berbahasa belanda dan melayu, baginya membaca sebelum tidur adalah cara untuk melupakan penderitaan yang telah dia jalani selama menjadi gundik Tuan Mellema. baginya menjadi Jawa adalah bukan kesalahan, baginya menjadi perempuan Jawa harus dapat merubah pandangan bahwa perempuan Jawa hanya pantas menjadi gundik dan hidup melayani Tuannya. bahkan Guru Minke (dalam Buku Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer) Jufforow Magda Peters memuji dirinya, bagi Jufforow dia baru kali pertama menemukan perempuan pribumi yang berjiwa Eropa, dia (Nyai) diluar kemampuan rata-rata perempuan Jawa, ia mampu belajar otodidak apa-apa saja yang dipelajari perempuan Eropa. dia tidak bersekolah tetapi koleksi buku bacaan yang menumpuk pada rak-rak diruang baca adalah bukti kenapa Jufforow pantas untuk menghormatinya. bahkan asosiasi culture stelsel yang hanya sedikit ia (Jufforow) ketahui oleh Nyai dapat dijelaskan.
menjadi pribumi tak membuat ia takut pada Eropa, dia perempuan yang sebenarnya rapuh tetapi mencoba menjadi kuat karena keadaan, baginya menjadi perempuan tak boleh hanyut hanya dalam terpaan masalah yang dapat merengut harga dirinya...
Disadur dari Tetralogi Pulau Buru, Novel Bumi Manusia, Karya: Pramoedya Ananta Toer

Komentar
Posting Komentar