P.a.t.a.h


Ranukumbolo, 29 Oktober 2017


aku berkhayal kembali, menantang waktu 
membunuh rindu, mengarungi samudra harapan...
sebuah kata minta maafmu menyakitiku seolah semua yang kau katakan tak punya maksud
menyanjungku atau membuatku menunggumu...
Tapi kucoba hibur diriku untuk tetap tegar, kalau Tuhan berkata iya maka bukan bunga yang akan menghampiri kumbang...

maka semoga bisikan namamu karena rindu, 
yang menghambur pada bintang-bintang malam kemarin
di bawah semesta dan kedap-kedip angkasa 
sampai tepat waktu padamu...

katanya jika kamu mencintai tapi terluka itu bukan cinta
tapi aku remuk, aku tersedu memintamu pada Tuhan 
sedang kau masih jadi batu, tak bergeming

Maka sekali lagi aku patah...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Origami

Wiranggaleng. Arus Balik. Pramoedya Ananta

Takdir yang Setengah Romantis (Cerpen)